Gerakan Mengentaskan Kali Brantas dari Teror Popok Bekas Bayi
Teror Popok di Kali Brantas nyata terjadi, demi kepraktisan para ibu denganbayi tiga tahun (batita) nya sejak 15 tahun terakhir meninggalkan pemakaian grito dan popok kain dan beralih ke popok sekali pakai. Belanja popok bayi menempati ranking kedua setelah susu dalam daftar belanja rumah tangga. Sehingga popok bay menjadi barang vital, bahkan demand popok bayi terus meningkat diikuti dengan tren kenaikan harga yang signifikan.
Menurut survey The Nielsen Company Juni 2017 pertumbuhan volume (peningkatan kebutuhan) meningkat 7,4% dan pertumbuhan harga meningkat 5,9% dibandingkan semester kedua tahun 2016. Di Daerah Aliran Sungai ( DAS) menurut survey BPS 2013 terdapat 750.000 Batita, dalam survey Brigade Evakuasi Popok (BEP) setiap batita DAS Brantas menggunakan 4 -9 popok/hari, maka jika semua popok bekas dibuang di sungai ( 3juta-6juta/harimaka Brantas akan tenggelam oleh popok bayi dan akan menjadi sumber polutan penting di Kali Brantas.
BEP telah melakukan investigasi di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jombang, Kota Batu, Kabupaten Malang dan Kota Malang, dari 9 Kota dan Kabupaten yang dilewati oleh Kali Brantas dan hasilnya menunjukkan :
1. Sungai Brantas menjadi Tempat pembuangan popok bayi bekas (selain popok bayi BEP juga menemukan popok orang dewasa dan popok/pembalut wanita). Dominasi Popok Bayi (98%), Popok Dewasa (1,9%) dan sisanya pembalut wanita, di Kali Surabaya BEP jug a menemukan kondom di dalam aliran sungai.
2. Tidak adanya SOP penanganan popok bekas . Popok popok yang berhasil dievakuasi BEP masih banyak tertempel kotoran bayi (feses) yang njembret, padahal seharusnya sebelum dibuang kotoran bayi ini harus dipisahkan dan dibuang kedalam septic tank, sehingga popok bekas yang dibuang sudah bersih dari feses yang banyak mengandung bakteri E-coli. Kondisi ini dikarenakan dalam packing atau bungkus popok, para produsen popok tidak mencantumkan cara penanganan popok bekas. Packing yang banyak ditemukan adalah mamy poko (produksi Unicharm), product pabrikan Jepang ini memang menguasai 60% pasar popok di Indonesia.
3. Jembatan menjadi “G spot”Titik Guang Popok atau lokasi yang enak untuk dijadikan lokasi pembuangan, hampir semua jembatan di 9 Kota/Kabupaten yang kami survey ditemukan tumpukan/timbunan popok . dari pantauan di 9 Kota Tumpukan popok di jembatan paling banyak ditemui di (1. Kota Malang, 2. Kota Batu, 3. Kabupaten Gresik, 4. Sidoarjo dan 5. Mojokerto). Di Kota Malang di Jembatan Muharto 85% tumpukan sampah di kaki jembatan adalah Popok bayi sisanya adalah bangkai ayam, plastic dan sampah organic.
4. Tidak adanya upaya penanganan sampah Popok Bayi bekas, sampah popok bayi mengacu pada Undang-undang Pengelolaan sampah Nomor 18/2008 popok bayi bekas masuk dalam kategori residu sampah sehingga tidak bisa didaur ulang atau dimanfaatkan kembali sehingga penanggannya harus di sanitary landfill di Tempat Pembuangan akhir (TPA), sehingga sudah menjadi kewajiban Pemkot/Pemkab/Pemprov Jatim untuk mengangkut popok-popok yang menggenangi Kali Brantas dan anak-anak sungainya untuk kemudian di angkut dan ditangani secara sanitary landfill.
5. Tidak ada yang berwenang. Tidak ada Dinas Lingkungan Hidup (Pemkab dan Pemkot) merasa “BERWENANG”untuk menangani masalah sampah popok bayi bekas yang ada di wilayahnya dengan dalih :
a. Sungai Brantas merupakan sungai dalam pengelolaan Propinsi Jawa Timur atau pengelolaan Pusat sehingga kewenangan penanganan sampah popok di Brantas otomatis menjadi kewenangan Pemprov dan/atau pemerintah Pusat (Kementerian PUPR dan Kementerian KLHK)
b. Popok yang ada di sungai bukan berasal dari wilayah kota/kabupaten yang menjadi kewenangannya namun berasal dari wilayah yang ada di hulu sehingga Pemkot/pemkab yang ada di hulu lah yang berkewajiban mengambili popok yang ada di sungai
c. Popok Bekas menyulut Emosi, keberadaan popok yang belum diatur dalam regulasi terkait tanggung jawab pengelolaan membuat Kepala Dinas Kebakarang jenggot ada yang menangani dengan pasrah ada juga yang emosi dengan fakta masih adanya popok bayi bekas ada di wilayahnya kotanya. Di Kota Mojokerto Kepala Dinas Lingkungan marah besar dan menyangkal jika sungai-sungai di wilayah Kota nya masih banyak ditemukan popok bekas bahkan memprovokasi dan bertindak kasar kepada BEP.
6. Mitos Suleten. Mitos yang berkembang di masyaraka DAS Brantas bahwa masih ada hubungan antara popok bayi bekas dengan bayi, sehingga perlakuan terhadap popok bayi bekas akan berdampak/membawa pengaruh pada kesehatan bayi. Keyakinan yang berkembang bahwa jika popok bayi bekas dibakar maka akan menyebabkan pantat bayi menjadi suleten atau pantat mengalami nyenyek, mruntus, mrintis timbul ruam-ruam bagian vital dan pantat bayi (iritasi). Untuk menghindari suleten maka popok bayi bekas dibuang di sungai supaya menimbulkan efek adem (dingin) bagi pantat bayi. Mitos ini menyebabkan ibu-ibu yang memiliki bayi merasa “nggak duweh duso” untuk membuang popok bekas bayi ke sungai
7. Negara Tidak Hadir di Sungai. Pengelolaan Sungai Secara umum masih belum menjadi prioritas pemerintah sehingga pengelolaannya pun Cenderung ala kadar (sak welase), Pemerintah melakukan pembiaran terhadap aktivitas/perilaku masyarakat yang merusak sungai, mencemari sungai dan meracuni air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat DAS Brantas. Pemerintah Tidak memiliki strategi pengelolaan sungai yang partisipatif sehingga masyarakat ora melu handarbeni sungai, sehingga masyarakat secara berjamaah dengan di imami pemerintah melakukan penistaan terhadap Kali Brantas.
Kota Malang termasuk dalam kawasan Hulu Kali Brantas, di bagian hilirnya Kali Brantas seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Mojokerto air kali Brantas menjadi Sumber bahan baku Perusahaan air Minum, maka menjaga kebersihan air sungai Brantas tidak bisa hanya membicarakan kewenangan wilayah kota/kabupaten sehingga Kali Brantas harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh. Memperhatikan TEROR POPOK DI KALI BRANTAS Maka Ecoton (lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah) membentuk BEP mendeklarasikan REVOLUSI POPOK menyatakan Perang terhadap Popok dan mewujudkan BRANTAS BEBAS POPOK 2020. Di Deklarasikan di Kota Malang pada 30 Agustus 2017, BEP Terinspirasi Kreatifitas, Soliditas (Solidaritas), Kebersamaan/Kegotongroyongan dan akas (Kerjakeras) Kera Ngalam yang akan menjadi pondasi dari gerakan Revolusi Popok.
Revolusi Popok akan mengentaskan Kali Brantas dari Teror popok dengan melakukan :
a. Evakuasi popok di Aliran Kali Brantas yang melalui 15 kota/kabupaten di Jawa Timur
b. Mengajak masyarakat untuk tidak membuang popok bekas bayi ke Aliran Kali Brantas,
mendorong pemakaian popok kain yang bisa digunakan berkali-kali, mengkampanyekan bahaya popok sekali pakai yang berdampak bagi kesehatan bayi dan kerusakan lingkungan sungai
c. Mendorong Produsen untuk mencantumkan larangan membuang popok ke sungai dan mencantum SOP penanganan popok bekas,
d. Mendorong Produsen popok untuk menyediakan sarana pembuangan popok (Drop Box) popok untuk kemudian menjadi tanggungjawab Pemerintah untuk mengangkut ke TPA
e. Mendorong Pemerintah (Pemkot/pemkab se DAS Brantas, Pemprov Jatim dan Pempus (PUPR dan KLHK) untuk membangun sanitary landfill khusus popok (menyuun dan melaksanakan penanganan sampah popok secara paripurna/tidak ndrenges atau tidak slengekan) dan menyusun kebijakan Pembebasan Sungai Brantas dari Popok Bayi.
f. Mendorong Pemerintah untuk segera melakukan pembersihan popok yang ada di Kali Brantas sepanjang 330 Km yang melewati 15 Kota/kabupaten, membersihkan timbunan popok di tiang oe
Aksi Rabu Pahing,
30 Agustus 2017 Alun-alun Kota Malang
Di Godok di Jl Bendungan Wlingi 29 Malang
Crew Brigade Evakuasi Popok : Koordinator : Azis SH (081335554711), Logistik : Robert, Heri Purnomo, Team Creative : Andreas Agus Kristanto, Amirudin Mutaqien & Prigi Arisandi, Legal Outreach : Rully Mustika Adya, Sie Konsumsi : Afrianto rahmawan Media Outreach : Supriyadi, Photografer : Emil. Email : ecoton.indonesia@gmail.com alamat : Wringinanom Gang 3 RT 1/RW5 Wringinanom 61176 Gresik Jawa Timur
Sumber : FB : Komunitas Peduli Asli Malang



This post have 0 komentar
EmoticonEmoticon